Percakapan
Pada tanah aku tersela
Sebagian mereka anggap pemerintah gila
Lainnya memuja-muja karena mendapat nafkah
Pada tiang-tiang bendera, aku terjajah
Kuikatkan mereka di sana
Tertindih
Diri yang tak pernah mengenal sepi
Semakin tahu, pemerintahmu memang sudah gila
Sekolah roboh, siswa tertimpa
Guru terluka, rakyat merana
Buku-buku berisi puja-puja pemerintah
Tak mengenal Tuhannya
Karena Raja harus disembah
Pada tanah,
Pada tiang bendera,
Aku tertawa.
-ris-
KebesaranMU
Sungguh, aku kagum akan karyaMU
Benar, aku salut dengan pembelaanMU
Terpujilah Engkau, selalu.
Kemarin, sekarang atau nanti, Engkau tetap sakti
KesaktianMU tak terganti
Sungguh, aku kagum akanMU
Cawan
tidak dianggap pusingpun kupusing
> > kelu rasanya lidahku bicara politik tapi menutup
> > mata seutuhnya pun tidak menyeimbangkan rasa hidupku
> > biar kucicipi sedikit saja
> > konspirasi masyarakat dan propagandist?
> > puaskanlah lagi otakmu
> > karna yang kupunya hanya tanya
> > siapakah yang lebih dungu?
> > masyarakat atau propagandist?
> > kusejalan dengan jawabmu
> > tapi suara sastramu membuatku ingin berkata bahwa
> > masyarakat lebih dungu. kedunguan yang membuat mereka
> > mengarahkan peluru itu ke kepala mereka sendiri, politikus hanya perlu melepaskan pelatuknyasaja.
> > apakah masyarakat telah menyiapkan 1 buah strategi
> > bekal esok hari sebelum mereka terlena dengan
> > lelahnya?
> > strategi yang menjadi perisai jangankan untuk melawan
> > apa yang kau sebut propagandist tapi melawan kebodohan mereka sendiri
> > ada pikiran sederhana yang mencoba menyadarkan kita
> > ketika kita menunjuk dengan 1 jari (pertanyaan
> atau apapun wujudnya) kepada orang lain sadarkah kita 4
> > jari yang lain mengarah kepada kita?
> > lebih dari itu ku tak tau
> >
> > jadi ….
> > cemara dipantai atau nyiur dipegunungan?
> >
> > rasanya aneh tidak menyetujui suatu pengalaman
> > bukankan kita sendiri yang membuat pengalaman itu terjadi?
> > yang kutanya bagaimana kubisa menjadi bijak dengan pengalaman itu?
> >
> > NB:
> > siapakah yang akan memuaskan cawan rinduku?
> >
> > bia
Radic
Ulurkan tangan, dan jangan terus kau kepal
Teriak-teriakan pas di telinga presiden
perlawanan bukan persoalan diam
Hai… panggil aku Radic