Harisman Simangungsong

harismanindonesia@gmail.com

Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Sekolah Menengah Pertama, sampai saat ini, hanya diberikan di beberapa sekolah saja. Namun demikian, sudah ada provinsi yang menjadikan Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai mata pelajaran muatan lokal, sebut saja DKI Jakarta dengan nama Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta dan Provinsi Jawa Barat dengan nama Pendidikan Lingkungan Hidup (SK Gubernur Nomor 25 Tahun 2007). Sementara di Provinsi Jawa Tengah, pendidikan lingkungan hidup diberikan secara integratif ke dalam mata pelajaran Agama, IPA, IPS, Biologi, Geografi dan lain-lain (Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah, 2007, hal. 3)

Berkaitan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup ini, sebuah studi yang dilakukan di perguruan tinggi di Yogjakarta oleh Yuliantri dan Yasin Yusuf (2007, hal. 3) menyebutkan bahwa kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup hanya menekankan pada memorizing, tidak komprehensif dan tidak aplikatif. Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan masih kurangnya pengetahuan para pengajar berkaitan dengan ilmu-ilmu tentang lingkungan hidup.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat dikatakan bahwa Pendidikan Lingkungan Hidup belum diberikan secara maksimal. Pencapaian pengetahuan tentang Lingkungan Hidup, khususnya pengetahuan tentang ekologi dasar, masih jauh dari harapan. Padahal, hasil penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2011) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengetahuan siswa tentang lingkungan hidup dengan sikap hidup bersih dan sehat siswa di SMP 4 Bojong Kabupaten Pekalongan. Singkatnya, pengetahuan siswa tentang lingkungan hidup (ekologi dasar) akan membantu mereka dalam membangun sikap ramah terhadap lingkungan hidup.

Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk mengatasi persoalan rendahnya pengetahuan siswa tentang ekologi dasar. Menurut Schulz, dkk pengetahuan dan pemahaman yang relevan tentang suatu bidang akan membantu dalam pembentukan sikap positif seseorang. (2010: hal 15). Strang (2006) menegaskan bahwa penanaman nilai-nilai lingkungan dapat dilakukan dengan cara pengintegrasian. Sementara Sara Marta menyebutkan pemahaman lingkungan hidup dapat dicapai melalui metode pengajaran sederhana, termasuk dengan cara pengintegrasian (http://www.longbrancheec.org/pubs/eco_modeling.html)

Individuals can observe the relationship between biological diversity and environmental diversity by using simplified scientific techniques in the educational program.”

Lazada Indonesia

Strategi pengintegrasian yang diajukan di dalam penelitian ini adalah dengan membuat model pembelajaran Bahasa Indonesia yang terintegrasi dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip ekologi dasar, yang meliputi network, nested system, cycles, flows, development and dynamic balance (http://www.ecoliteracy.org/nature-our-teacher/ecological-principles)

Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mencari format atau model pengintegrasian pengetahuan ekologi dasar ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang sudah ada dengan merujuk kepada Borg dan Gall (1983) melalui tahapan sebagai berikut:

  1. Mendefinisikan permasalahan / kebutuhan sejelas mungkin
  2. Menganalisa kebutuhan untuk menghasilkan pilihan-pilihan dan menentukan pilihan (model pembelajaran integratif) yang akan diterapkan.
  3. Mendesain/mengembangkan model pembelajaran integratif yang paling sesuai berdasarkan hasil analisis pada tahap 2.
  4. Melakukan field test
  5. Mengevaluasi dan merevisi produk (model pembelajaran integratif) berdasarkan informasi dan hasil analisis.

Berdasarkan pemaparan di atas, perumusan masalah di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah model pengintegrasian prinsip-prinsip ekologi dasar yang sesuai untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia?
  2. Bagaimanakah efektifitas model pengintegrasian prinsip-prinsip ekologi dasar untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia?

Melalui penelitian dan pengembangan ini, diharapkan model yang dihasilkan dapat membantu guru dalam memberikan pengajaran ekologi dasar melalui pengintegrasian ke mata pelajaran yang diasuhnya, dan bermanfaat untuk:

  1. Memberikan model pengintegrasian prinsip-prinsip ekologi dasar ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
  2. Model yang tersusun nanti dapat membantu siswa meningkatkan cara belajar sekaligus meningkatkan pengetahuan siswa tentang prinsip-prinsip ekologi dasar.
  3. Memberikan pemahaman dan dukungan untuk menjawab kebutuhan guru dalam memberikan pendidikan ekologi dasar secara integratif.
  4. Dapat memberikan motivasi siswa untuk mempelajari ekologi dasar.

Baca juga Buku Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Kelas 8