Tubuh kurus, rambut tak terurus, kulit sawo rontok, mata belimbing matang, bau matahari adalah sebagian penanda diri saya. Bangun pagi buta, sarapan dan minum teh manis buatan mamanya, ambil sepatu bola, naik sepeda tanpa merek menuju lapangan sepak bola untuk latihan. O. Teringat almarhum pak Nainggolan, pelatih bola saya, yang mungkin teman-teman satu klub saya masih ingat betapa besarnya perhatian beliau kepada setiap anak didiknya. Meski lebih terkenal dengan suara lantangnya dengan ucapan-ucapan khasnya di lapangan, baik saat latihan maupun bertanding, seperti, “Hei bodoh kali kau”, “kejaarrrrrr. Pemalas!”, dan lain sebagainya, beliau adalah sebagian besar dari hidup saya. Semoga kau tenang di sana coach. Terima kasih karena sampai sekarang saya masih rajin “berlari”.
Sepulang latihan bola, saya menghabiskan waktu, meski tidak sering, bersama teman mandi di empang hehehehe karena kolam renang, saat itu, hanya untuk orang yang punya uang.

Masa Sekolah
Saya masuk sekolah lebih awal dari usia patokan yang berlaku sekarang karna dulu asal tangan bisa megang kuping dari arah atas kepala, berarti sudah bisa masuk sekolah. Berangkat dan pulang bersama teman, tidak lupa naik kuda dari gedebong pisang. Saya begitu bergembira. Tidak pernah kuatir mau makan apa, pakai pakaian apa. Yang penting main bola. Setiap istirahat, saya pasti bermain bola di lapangan sekolah. Berkelahi jika lawan bermain kasar.

Mau lapar, mau haus, hanya bisa diimbangi dengan air putih yang saya bawa dari rumah. Tidak jarang, Ibu Maryati [wajahnya mirip-mirip Ema Bude Blok M-UNJ, anak UNJ pasti tau-red] pemilik warung di sekolah, memberikan segelas kecil es teh dan bakwan dingin untuk saya. Uang jajan sekolah yang memang tidak seberapa langsung masuk celengan buat beli sepatu bola yang waktu itu terasa sudah sempit. Dari tabungan itulah, saya membeli sepatu bola bekas sebekas-bekasnya milik teman. Sueneng banget bisa memilikinya.
Saya sering sekali belajar bersama teman. Paling senang kalau belajar di rumah teman yang punya kulkas dan pohon jambu. Di rumahnya Tajuddin. Itulah saat yang tepat menikmati dinginnya air dan makan jambu langsung metik. Saat itu jajan adalah hal yang mewah.

Bermain Peran
Saat usia 6 tahun bahkan terus berlanjut, saya bersama teman-teman ada aja waktu untuk bermain peran. Ah. Saya seringnya memainkan peran yang bagus-bagus, entah sebagai anak yang penurut, sebagai wasit/juri, bahkan berperan sebagai bapak yang baik yang suka menemani anaknya main, bercerita, menjadi pembela ketika anaknya dimarahin. O. [saat ini, bukan sedang main peran]

Originally posted here