Pendidikan Karakter

Sebelumnya kesampingkan dulu definisi, batasan-batasan yang hebat tentang Pendidikan Karakter. Kesampingkan juga pandangan-pandangan miring yang menyatakan bahwa Pendidikan Karakter hanya untuk menggendutkan anggaran Pendidikan Nasional, tanpa arah, sehingga tuntutan penyediaan sarana prasarana bisa dikesampingkan.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sedianya, pendidikan itu memang ditujukan untuk membangun karakter seseorang, atau lebih tepatnya peserta didik. Sebagai contoh, karakter berfikir logis dapat diberikan atau dibangun melalui mata pelajaran matematika dan bahasa, karakter peduli sesama, dapat diberikan atau dibangun melalui mata pelajaran IPS dan seterusnya.

Mengapa ada Pendidikan Karakter? Alasan yang paling sering dilontarkan oleh para pemangku kepentingan (anggaran) adalah perlunya penguatan. Singkatnya, Pendidikan Karakter merupakan langkah penguatan pendidikan.

Temuan Penelitian

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kurikulum, Kementerian Pendidikan Nasional, pada tahun 2009 menemukan bahwa:

students’ attitude toward human right, culture, norms, democratic values are statistically moderate. (Erry, Harisman Simangunsong, dan Lili, 2009)

Lebih lanjut, hasil penelitian ICCS (International Civic and Citizenship Education Study) menunjukkan:

Secara rata-rata sekitar 60 persen siswa di seluruh negara peserta ICCS percaya kepada pemerintahannya, media dan masyarakat umum, sedangkan 75 persen siswa memiliki kepercayaan yang rendah terhadap sekolah.

Sementara, Lickona (1990) menyatakan “from a historical perspective, character education is as old as education itself, and comprises one of the two great goals of schools: helping people become smart and helping them become good.”

“Several studies have shown that schools that seem to have an impact on student character will respect students, encourage student participation in the life of the school, expect students to behave responsibly, and give them the opportunity to do so” (Leming, 1993b:p. 67)

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js


//