A.3. Integrative Learning Design Framework (ILDF) for Online Learning

Konsep ketiga yang dibahas di dalam bagian ini adalah Integrative Learning Design Framework (LDF) for Online Learning yang dibuat oleh Dabbagh dan Brenda.

Konsep ini memang ditujukan khusus untuk pembelajaran online. Oleh karenanya, konsep ketiga ini menjadi konsep utama yang digunakan oleh peneliti untuk mengembangkan metode pembelajaran online tentang prinsip-prinsip ekologi dasar secara integratif ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya untuk siswa kelas 7.

Konsep ini terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu (a) exploration phase, (b) enactment phase, dan (c) evaluation phase (Gambar 2.5).

Gambar 2.5 [tersedia pada versi full]
Proses Sistematis Pengembangan Pembelajaran On-line oleh Dabbagh & Brenda (2005: 116)

Konsep Model yang Dikembangkan
Model pembelajaran online yang akan dikembangkan adalah pembelajaran tentang prinsip-prinsip ekologi dasar yang diberikan melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Adapun mata pelajaran Bahasa Indonesia ini dimaksudkan sebagai sarana mempelajari prinsip-prinsip ekologi dasar.

Di dalam penelitian ini, konsep pengembangan model yang digunakan adalah Integrative Learning Design Framework (ILDF) for Online Learning dengan tetap merujuk kepada konsep penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall dan Donald Clark. Adapun tahapan-tahapan pengembangannya adalah sebagai berikut:
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js


//
Exploration phase (Tahapan Eksplorasi). Tahapan ini disebut juga sebagai penelitian pendahuluan. Langkah-langkah yang dilakukan di dalam tahap ini, meliputi studi pustaka, khususnya pada kajian tentang proses pembelajaran lingkungan hidup untuk siswa Kelas 7 dan kajian/analisis kurikulum, khususnya terhadap Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 7 dengan tujuan untuk merumuskan SK-KD mana saja yang dapat diintegrasikan dengan pengetahuan tentang prinsip-prinsip ekologi dasar, model pembelajaran integratif secara on-line yang sesuai dengan SK-KD.

Berdasarkan tahapan eksplorasi tersebut, pengembang membuat perencanaan untuk menghasilkan rumusan tentang tujuan pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, pengembangan metode pembelajaran integratif dan rancangan uji model. Selanjutnya, membuat produk awal dan siap untuk diterapkan.

Enactment Phase (Tahapan penerapan model) Langkah ini dilakukan berdasarkan hasil dari tahapan pertama. Pada tahapan ini dilakukan uji lapangan awal secara terbatas di 1 kelas. Pada tahap ini juga akan dilakukan analisis terhadap hasil informasi atau data yang diperoleh dari observasi dan wawancara untuk memperbaiki kelemahan atau kekurangan dari model yang sedang diujicobakan.

Selanjutnya, dilakukan main field testing (Uji lapangan utama), Pada tahap ini model pembelajaran yang tersusun akan diujicobakan ke 1 kelas lainnya. Dalam kegiatan uji lapangan ini tidak menggunakan kelompok kontrol. Karenanya model pembelajaran Ekodukasi akan diujicobakan dengan menggunakan desain Pre-Experimental Design – One-Group Pretest-Posttest Design (Gay dan Peter Airasian). Disain ini dipilih untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan model pembelajaran integratif tentang prinsip-prinsip ekologi dasar.

Evaluation phase. Pada tahap ini dilakukan revisi terhadap produk secara operasional (operational product revision). Langkah ini ditujukan untuk membuat model pembelajaran yang benar-benar sudah siap untuk digunakan. Selanjutnya, produk ini akan divalidasi dengan melakukan operational field testing, (Uji lapangan operasional). Tahap ini merupakan tahap untuk melihat efektifitas model pembelajaran. Untuk itu semua responden akan diberikan pre-test dan post-test. Selanjutnya, dari hasil penghitungan perbedaan rata-rata pre-test dan post-test tersebut di atas, produk akan direvisi, terutama untuk menyempurnakan bagian-bagian yang belum diterima atau dipahami sepenuhnya oleh siswa sebagai pengetahuan tentang prinsip-prinsip ekologi dasar. Kemudian model yang telah dibuat “ekodukasi” akan dilaksanakan untuk siswa di sekolah yang menjadi target di dalam penelitian ini. Implementasi model akan sejalan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan mengacu ke Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 7.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js


//

Seperti biasa: kalau menurut kamu postingan ini bermanfaat, bagikan ke teman kamu ya. Terima kasih selamanya.