Ayat Alkitab: Kotbah Perintah Bersukacitalah!

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
– Filipi 4:4

Tanda seru (!) menegaskan bahwa bersukacita adalah tindakan yang sangat penting, dan harus dilakukan!

Seorang hakim memerintahkan seorang pria Jerman untuk berhenti tertawa di hutan. Joachim Bahrenfeld, seorang akuntan, dituntut ke pengadilan oleh salah seorang dari beberapa orang yang berjoging, dan berkata bahwa kegiatan joging mereka terganggu oleh ledakan tawa Bahrenfeld yang memekakkan telinga.

Ia diancam akan dipenjara selama 6 bulan jika tertangkap sedang tertawa lagi. Bahrenfeld, 54 tahun, berkata bahwa hampir setiap hari ia pergi ke hutan untuk tertawa.

Itu dilakukannya untuk melepaskan stres. “Bagi saya, tertawa adalah bagian dari hidup,” katanya, “seperti makan, minum, dan bernapas.” Ia merasa bahwa hati yang gembira, yang diungkapkan melalui tawa yang terbahak-bahak, penting bagi kesehatan dan kelangsungan hidupnya.

Dalam majalah Better Homes and Gardens, terdapat sebuah artikel yang berjudul Tertawa Adalah Jalan Menuju Sehat. Di situ Nick Gallo mengadakan pengamatan yang menggemakan apa yang ditulis oleh Raja Salomo ribuan tahun silam: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” (Amsal 17:22).

Gallo berkata, Humor adalah obat yang manjur, dan sesungguhnya dapat membantu menjaga kondisi Anda agar tetap sehat. Ia mengutip pernyataan William F. Fry, M.D., yang menggambarkan tertawa bagaikan joging batiniah dan mengatakan bahwa hal itu baik bagi sistem peredaran darah seseorang.

Saat membandingkan tertawa dengan olahraga, Gallo menjelaskan bahwa ketika seseorang tertawa lepas, ia memperoleh beberapa keuntungan fisik. Terjadi penurunan tekanan darah untuk sementara, penurunan kecepatan pernapasan, dan ketegangan otot yang berkurang.

Ia mengatakan bahwa banyak orang mengalami suatu perasaan senang dan santai. Ia menyimpulkan, selera humor yang tetap, terutama bila digabungkan dengan sumber-sumber batiniah lainnya seperti iman dan optimisme, tampak sebagai kekuatan yang berpotensi untuk memperoleh kesehatan yang lebih baik.

Bersukacitalah

Bagaimana caranya agar kita dapat senantiasa bersukacita seperti yang Firman Tuhan katakan dalam Filipi 4:4?

Kata kunci di sini adalah “dalam Tuhan.” Di luar Tuhan mustahil kita dapat senantiasa bersukacita.

Bersukacita merupakan sebuah sikap dan pilihan, tidak selalu berarti perasaan yang terus menerus kita rasakan.

Itu sebabnya Firman Tuhan menegaskan, “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari.” (Pengkhotbah 3:4).

Orang yang bersukacita dalam Tuhan tetap bisa bersedih, namun ia tidak terbebani atau ditindih oleh apa pun yang dialaminya.

Ada empat cara untuk bersukacita di dalam Tuhan:

  1. Beriman.
    Orang yang bersukacita dalam Tuhan adalah orang yang menyandarkan hidupnya pada Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan berkuasa dan mengasihinya; jadi, Tuhan mampu melakukan segalanya dan akan memberi yang terbaik kepadanya. Ia damai sebab Ia tahu siapakah yang memelihara hidupnya.

“Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)

  1. Bersyukur.
    Orang yang bersukacita menerima porsi kehidupannya sebab ia tahu bahwa Tuhan memberi tepat dan sesuai dengan rencana-Nya yang terbaik.

Ia belajar menerima rencana Tuhan dalam hidupnya dan bergantung pada kekuatan Tuhan untuk memampukannya menerima.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

  1. Baik hati
    Orang yang bersukacita adalah orang yang baik; ia murah hati sebab ia tahu bahwa apa pun yang ada padanya merupakan pemberian Tuhan.

Ia memberi sebab ia yakin pada pemeliharaan Tuhan atas hidupnya. Memberi tidak akan membuatnya kekurangan, sebaliknya, memberi membuatnya menerima lebih dari Tuhan.

“Hendaklah kebaikan hatimu diketahui oleh semua orang. Tuhan sudah dekat.” (Filipi 4:5).

  1. Bersih Pikiran.
    Orang yang bersukacita adalah orang yang berpikiran dan berhati bersih.

Ia tidak mengisi benaknya dengan hal yang kotor/najis; sebaliknya, ia mengisi pikirannya dengan hal-hal yang indah dan bersih.

“Jadi akhirnya saudara saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8).

Tuhan Yesus memberkati.

*Materi ini dibawakan di dalam Komsel GKSI Betlehem.